PLTS Terapung Cocok di Kembangkan di Indonesia

Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung diprediksi cocok dilakukan di Indonesia. Hal tersebut lantaran Indonesia sebagai negara kepulauan dengan luas sebesar 2/3 berupa perairan dan potensi energi surya yang besar dengan berada posisi di negara tropis dengan iradiasi matahari rata – rata 4,8 Wh/m2

Hal tersebut lantaran Indonesia sebagai negara kepulauan dengan luas sebesar 2/3 berupa perairan dan potensi energi surya yang besar dengan berada posisi di negara tropis dengan iradiasi matahari rata – rata 4,8 Wh/m2.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional, salah satunya dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung. Sebagai pilot project pengembangan energi surya di Indonesia PLTS ini diharapkan dapat menjadi bahan riset, referensi ataupun penelitian untuk mengembangkan teknologi serupa di daerah – daerah lain.

PLTS terapung adalah sebuah model PLTS terpusat adalah sebuah model PLTS terpusat yang diletakan terapung diatas air seperti danau, waduk dan sejenisnya, termasuk laut.

Berdasarkan situs Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kamis (4/8/2016) keuntungan PLTS terapung dibandingkan dengan PLTS terpusat antara lain tidak membutuhkan lahan/daratan yang umumnya lebih mahal atau bernilai, kemudian mengurangi terjadinya penguapan air, menghambat pertumbuhan gulma lainnya seperti eceng gondok serta penguapan air yang terjadi dan tertahan oleh modul PV menciptakan sebuah sistem pendinginan yang meningkatkan efisiensi listrik yang dihasilkan oleh sel PV.

Sejauh ini, di Asia baru Jepang yang memiliki PLTS seperti ini yaitu dengan dibangun di Kato di sebuah kolam Nishihira dan Higashihira.

Pembangkit yang dibangun atas kerja sama Kyocera dan Century Tokyo Leasing, mampu membangkitkan energi listrik sebesar 3.300 MWh per tahun. Energi tersebut cukup untuk melistriki 920 rumah.

PLTS terapung ini dilaporkan memiliki efisiensi yang lebih tinggi dibanding PLTS konvensional yang diletakkan di atas atap atau tanah. Peningkatan efisiensi ini didapat dari penurunan temperatur yang dihasilkan dari proses pendinginan air yang berada dibawah sel-sel surya ketika terpapar sinar matahari.

Dua fasilitas PLTS tersebut terdiri dari 11.256 modul surya buatan Kyocerayang masing-masingnya berkapasitas 255 Watt. Selain itu, PLTS terapung tersebut didesain dan dibangun untuk mampu bertahan terhadap angin topan yang cukup sering terjadi di Jepang.

Pemasangan PLTS terapung berukuran besar di sebuah kolam juga memberikan keuntungan tersendiri. Selain mengurangi penguapan air, PLTS tersebut juga mengurangi pertumbuhan algae yang lazim terjadi di sebuah kolam terbuka.

Jepang saat ini juga sedang merencanakan untuk membangun fasilitas PLTS terapung dengan skala yang jauh lebih besar di bendungan Yamakura. Sebanyak 50.000 modul surya akan menghasilkan 15.635 MWh per tahunnya. Sebelumnya, sebuah perusahaan bernama Liquid Solar Array juga tengah mengembangkan PLTS berbasis solar concentrator di India.

Di Indonesia sendiri, pemerintah berencana mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya di indonesia terapung di beberapa titik antara lain di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali lalu di Danau Toba dan Samosir.